Kamis, 08 Desember 2011

PENERAPAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN Dl NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG

BAB V

PENERAPAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN Dl  NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG

A.   Perkembangan Teknologi Pendidikan di Negara Berkembang

Menurut analisa G. Pracharopoulus Negara berkembang investasi dalam sumber daya manusiawi mempunyai nilai ekonomisyang lebih tinggi dari investasi dalam bidang fisik, sena dalam bidang pendidikan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.
Dean Jamison membuat analisa pendidikan di Indonesia yang satu kesimpulan yaitu :
1.Untuk mempertahankan angka partisipasi pendidikan dasar pada taraf yang tetap belanja pendidikan harus dilipat duakan pada tahun berikutnya.
2. Angka  partisipasi  akan  turun  menjadi   15%  bila  pertambahan 
    belanja    pendidikan sama dengan kenaikan ongkos nyata.
      
  Peranan dan Kecendrungan Teknologi Pendidikan
Teknologi pendidikan dapat dikatakan sebagai alternatif pemecahan berbagai masalah pendidikan. Suatu komisi yang dibentuk oleh AECT memmuskan TP sebagai suatu bidang yang berkepentingan dengan kegiatan manusia yang secara sistematis mengidentifikasi, mengembangkan. mengorganisasikan segala macam sumber belajar. termasuk pengelolaan.
Aplikasi teknologi pendidikan dapat diamati dengan :    
1. adanya system peralatan untuk menyajikan informasi
2. terintegrasinya system peralatan tersebut sebagai suatu sub system
    dalam system pendidikan
      3. dilaksanakannya salah satu kegiatan seperti :
Ø  Perubahan fisik dan tempat belajar
Ø  Hubungan guru dan murid yang tidak langsung
Ø  Aktifitas anak didik yang relative bebas dari control guru
Ø  Perubahan peranan dan kecakapan guru
Ø  Jumlah, macam dan komposisi biaya yang berbeda.
Tiga kecendrungan umum dalam kemampuan penyajian yaitu :                     
      1.dipakai secara massa yang meliputi radio, televisi. teleblackboard.
2.dipakai dalam kelompok baik kecil maupun besar, seperti proyektor 
   film, overhead, kaset. pita. dll.
3.dipakai secara  individual  seperti  mesin  belajar. computer dan teks
         pengajaran individual.
Lima kecendrungan dari segi penggunaan yaitu :
1.   meningkatkan mutu pendidikan
2.   melatih/menatar guru
3.   memperluasjangkauan sekolah
4.   pendidikan dasar dan buta huruf
5.   pendidikan orang dewasa dan pembangunan masyarakat
Proses Pengembangan
Proses pengembangan dapat dianalisis kedalam 3 kelompok : perencanaan.pelaksanaan. dan penilaian.
Perencanaan   merupakan   proses   permulaan   sebelum   adanya   keputusan
kebijakan.
            Pelaksanaan kegiatan pengembangan merupakan lanjut perubahan peranan dan kecakapan guru an dari perencanaan,dimana dalam pelaksanaan ini bertujuan untuk menjalanka.n apa-apa yang sebelumnya telah direncanakan
            Peniaian merupakan kegiatan mengevaluasi apa yang telah dilaksanakan,apakah sudah maxsimal atau sama sekali tidak berpengaruh terhadap suatu kegiatan

B.   Perkembangan Teknologi Pendidikan di Negara Maju

            Pemanfaatan siaran radio pendidikan meluas sampai ke daerah daerah terpencil yang jauh dari lokasi sekolah.medi pembelajarn tidak hanya radio pendidikan,ttetapi juga menggunakan televise pendidikan,dimana yang pada mulanya itu hanya di gunakan untuk hiburan,tetapi karena kemajuan teknologi dan kemampuan berfikir yang cepat,maka mereka menjadikannya sebagai mebia untuk pembelajaran.
Perbedan Tujuan Penerapan Teknologi Pendidikan di Negara Maju  dan Berkembang
1.      Tujuan penerapan teknologi pendidikan di Negara maju
 Di Australia dan new Zealand pemanfaatan siaran radio untuk pendidikan telah meluas sampai daerah terpencil.
 Di jepang media pembelajaran yang dgunakan adalah tv dan alay komunikasi lainnya. Pada mulanya hanya untuk hiburan dan alat-alat panyampaian pesan penerapan dan kemudian para ahli melihat media ini untuk dimanfaatkan untuk pendidikan.   
2.      Tujuan penerapan teknologi pendidikan di Negara berkembang
 Diniger memanfaatkan media teknologi komunikasi dalam system pendidikan nasional. Pada tahun 1964 siaran televise pendidikan dikembangkan, sasaran umatnya adalah para guru sekolah dasar. Sasaran lain yang harus cepat terselesaikan di niger adalah pemberantas buta huruf.

Perbedaan Kegiatan Penerapan Teknologi Pendidikan di Negara Maju dan Berkembang
1.   Kegiatan penerapan TP di Negara maju
Kegiatan penerapan TP di Negara maju dalam pembelajaran biasa dan tumbuh serta berkembang antara lain:
  1. Kegiatan pemanfaatan TP secara massa
Teknologi pada Negara maju telah digunakan oleh semua orang, dari masyarakat kecil, kalangan pejabat dan petinggi Negara dan yang paling utama tentu digunakan oleh para pelajar dan berbagai ahli.
                        Contoh teknologi yang dimanfaatkan adalah internet yang mereka gunakan sesuai dengan profesi yang mereka miliki.
  1. Kegiatan kelompok belajar
Disini kelompok belajar ini dimanfaatkan untuk menunjang pembelajaran dan disinilah para pelajar bisa bertukar pikiran dan menyelesaikan suatu persoalan dengan jalan bersama untuk memperoleh hasil yang maksimal.

c.       Kegiatan belajar individual 
Kegiatan seperti ini mungkin lebih efektif dilakukan oleh kalangan tertentu, karena dengan belajar secara individual mereka dapat mengembangkan potendi yang terdapat didalam dirinya. Kegiaatanya biasanya menggunakan berbagai media seperti  mesin  belajar, computer dan  teks pengajaran individual terprogram.
Hampir semua sekolah di Negara maju sudah dilengkapi dan memanfaatkan berbagai media elektronik dan fotografi.
Di Australia dan New Zealand untuk melayani peserta didik yang jauh terpencil yang tidak ada sekolah terdekat dari pemukimannya, mereka dapat mengikuti pelajaran melalui siaran radio sekolah dari tempat masing-masing pada jam siaran.
Sedangkan di Inggris mengembangkan siaran radio untuk pendidikan tinggi guna melayani mahasiswa yang tersebar di seluruh Inggris.
 2.   Kegiatan penerapan TP di Negara berkembang dalam usaha :
        a.   meningkatkan mutu pembelajaran
            Di Negara berkembang diperlukan perubahan pola belajar dan perubahan karakteristik guru serta media pembelajaran yang lebih menunjang pembelajaran agar lebih efektif dan efisien.
        b.  melatih  guru
                    Diperlukan tenaga yang profesinal agar mutu pendidikan dapat meningkat. Uapaya yang dilakukan seperti memberikan pelatihan kepada guru dalam memberikan materi pelajaran baik dalam bentuk perbaharuan materi yang dapat diambil dari internet yang sebelumnya hanya menggunakan pedoman buku saja. Dan juga dibutuhkan media pembelajaran yang meransang minat siswa untuk belajar.
d.      memperluas jangkauan sekolah
            sekolah-sekolah berada di daerah tertentu membutuhkan perubahan yang lebih baik dari sebelumnya, yang pada awalnya informasi didapatkan hanya dengan melalui surat kabar atau pemberitahuan di televise. Untuk mengatasi hal ini sebaiknya diadakan seminar dan penyuluhan untuk memanfaatkan teknologi elektronik agar bisa mendapatkan informasi yang lebih up to date.
e.       pembelajaran pendidikan dasar dan buta huruf
            pendidikan dilakukan untuk memberantas buta huruf yang masih banyak dijumpai di Negara berkembang, hal ini dilakukan agar  tercapai pendidikan yang merata disetiap warga. Dan dengan modal bisa membaca tersebut mereka dapat memperolah informasi yang lebih dari sebelumnya yang pada akhirnya bisa menggunakan teknologi.
        e.   kegiatan pendidikan orang dewasa dan pembangunan masyarakat
Tidak semua Negara berkembang memiliki media yang  sama dalam menunjang system   pendidikan.  
.
Perbedaan Sasaran Penerapan Teknologi Pcndidikan di Ncgara Maju dan Negara Berkembang
1.   Sasaran penerapan TP di negara maju
Di negara maju pemanfaatan media komunikasi dapat mencapai sasaran anak/mahasiswa tidak hanya dalam kelas tapi juga terdapat pada beberapa kelas. Sasaran TP di negara maju adalah siswa&mahasiswa.
2 .Sasaran penerapan TP dinegara berkembang
     Pada Negara berkembang sasaran teknologi pendidikan masih mengutaman pendidik.karena kebanyakan para pendidik di Negara berkenbang belum propesiaonal dalam pembelajaran menggunakan media.contoh:
a. Niger sasarannya guru-guru sekolah dasar dan masyarakat
b. Pandaigading sasarannya karyawan menengah berbagai perusahaan
c. Aljazir sasarannya guru dan calon guru
d. Kolombia sasarannya anak-anak SD
e. Peru sasarannya anak-anak TK dan calon pekerja tamatan SD
f. Muanghtai sasarannya murit SD kelas 3-5
g. Hondurus sasarannya masyrakat dan anak-anak usia sekolah
                            

Perbedaan Pengelolaan Teknologi Pendidikan di Negara Maju dan Negara Berkembang
1.      Pengelolaan TP di negara maju
Dirumuskan suatu system yang  cukup ambisius yaitu dalam waktu yang singkat harus dapat diperluas usaha pembaharuan pendidikan dengan meningkatkan mutu.alternatif yang dikembangkan dan yang dipilih mempunyai kaitan langsung juga prioritas program yaitu industrialisasi.
2.      Suatu tem study mengajukan alternatif dipakainya media radio untuk pendidikan dasar di Indonesia khususnya penyebaran kuruikulum baru.

Perbedaan latar belakang penerapan Teknologi Pendidikan di negara maju dan negara berkembang
1.      Latar belakang Pengelolaan TP dinegara berkembang
Dalam dunia pendidikan masalah yang rata-rata dialami dan harus mendapatkan penyelesaian segera adalah kesempatan belajar mengingat masa depan dan kelanjutan kehidupan bangsa sangal tergantung dari kecerdasan warganya.
Dalam usaha pengembangan pendidikan bagi negara berkembang terlihat dan terasa kepincangan serta berbagai masalah.
2.   Latar belakang penerapan TP di negara maju
Media komunikasi pada mulanya adalah alat hiburan dan alat penyampaian pcsan-pesan penerangan. Kemudian para ahli melihat potensi yang ada pada media ini untuk dimanfaakan bagi pendidikan.

Perbedaan penerapan sumber belajar di negara maju dan berkembang
1.      Sumber belajar di negara maju
Penyampaian kuliah secara massal melalui pemancar adalah biasa dan tumbuh serta berkembang dengan baik.
Siaran radio untuk pendidikan tinggi dan siaran televisi sebagai media pembelajaran.


2.      Sumber belajar di negara berkembang
Memanfaatkan media televisi untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan antara yang memperoleh pendidikan di kota dan di desa. Televisi pendidikan sekolah ini berada langsung dibawah Menteri Pendidikan sedangkan tenaga pengelolanya ahli dibidang paedagogy.

Perbedaan kendala penerapan Teknologi Pendidikan di negara maju dan berkembang
1.      Kendala di negara berkembang
 Kendala yang dihadapi yaitu :
- Banyaknya orang yang buta huruf rendahnya produktifitas warganya    
  mendesaknya kebutuhan pendidikan itu sendiri
- Kekurangan  baik sarana maupun jumlah guru terlebih guru vans
  berkualitas tinggi
-  dana yang diperlukan terbatas sekali sehingga untuk memperoleh guru
   yang baik sukar dicapai
Tampaknya memanfaatkan media komunikasi merupakan alternatif pemecahan. namun tetap ada berbagai masalah yang timbul yaitu masalah dana dan tenaga yang diperlukan. Dalam hubungan ini bantuan internasional merupakan alternatif yana menjadi pilihan, dimana dana yang besar sangat diperlukan.
2.      Kendala penerapan TP di negara maju
Di negara maju jika ada masalah yang timbul mereka akan melakukan penelitian serta perbandingan dengan masing-masing pesan yangdisampaikan sendiri. Terhadap kekurangan dan kesalahan yang terjadi selalu diadakan perbaikan.

Sumber Dana Penerapan Teknologi Pendidikan di Negara Maju dan Berkembang
1.      Sumber dana pendidikan di negara maju
Penyampaian pembelajaran atau kuliah secara massal melalui pemancar adaiah biasa dan berkembang dengan baik. Hampir semua sekolah dinegara maju dilengkapi media pembelajaran elektronika dan fotografi.
Untuk terus meningkatkan mutu pendidikan di negara maju memang memerlukan dana yang tidak sedikit. Sumber dana yang didapat dalam meningkatkan mutu pendidikan ini merupakan anggaran belanja di negara masing-masing. Dan ditambah dengan dana-dana lainnya, baik berasal dari dalam maupun luar negri.
2.      Sumber dana pendidikan di negara berkembang
Persoalan biaya bagi negara berkembang merupkan problem tersendiri yang seringkali bahkan merupakan faktor penentu utama untuk dapat tidaknya diterapkan teknologi pendidikan. Ciri teknologi adaiah adanya peralatan dan memerlukan biaya investasi yang mahal.
Banyak negara berkembang yang kekurangan guru bermutu. sedangkan guru yang diperlukan untuk mendidik sangat kecil jumlahnya. Belum lagi masalah dana yang harus disediakan untuk pendidikan ini.
Salah satu negara berkembang adaiah Indonesia. Indonesia pernah menyediakan dana pendidikan hanya 4% saja. Menurut para ahli anggaran yang paling ideal adaiah 25% dari semua anggararan

GURU PROFESIONAL BERBASISKAN ILMU DAN TEKNOLOGI

A.    Pengertian Guru Professional
Guru professional adalah guru yang mengenal dirinya. Yaitu, dirinya adalah pribadi yang dipanggil peserta didik dalam belajar. Guru dituntut untuk mencari tahu terus menerus bagaimana sehasusnya peserta didik itu belajar.
      Profesionalisme guru mempunyai makna penting yaitu:
1.       profesionalisme memberikan jaminan perlindunga kepada kesejahteran masyarakat umum
2.       profesionalisme guru merupakan suatu cara untuk memperbaiki profesi pendidikan yang selama ini dianggap oleh sebagian masyarakat rendah.
3.       profesionalisme memberikan kemungkinan perbaikan perkembangan diri yang memungkinkan guru dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin.


Kualitas profesionalisme ditunjukan oleh lima sikap yaitu:
  1. keinginan untuk menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal.
  2. meningkatkan dan memelihara citra profesi
  3. keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan profesionalismeyang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilannya.
  4. mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi
  5. memiliki kebanggaan terhadap profesinya.

B.     Guru Profesional Berbasis IT
Guru berbasi IT adalah guru yang dalam proses pengajaranna menggunakan media yang berupa informasi dan teknologi yang selalu diperbarui,dan menyampaikannya kepada peserta didik dengan metode yang dapat dengan mudah dapat menbuat peserta didik mengerti.
Karakteristik guru yang berbasis IT:
  1. Dalam mengajar ia harus professional
  2. menggunakan suatu media.
Guru berbasis IT sangat dibutuhkan pada saat sekarang ini,terutama untuk Negara yang sedang berkenbang seperti Negara Indonesia sekarang ini

INOVASI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN
A.    Pengertian
Perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan pada masa tertentu agar memperoleh hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Berbagai pembaharuan dilakukan agar pendidikan tersebut bisa berjalan dengan transparan dan dapat dilakukan dimana saja dengan berbagai perkembangan didalam dunia pendidikan.

B.     Tujuan Inovasi dalam Pendidikan
  1. Mengatur ketinggian yang dihasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat mengglobalisasi pada saat sekarang ini.
  2. Mengusahakan terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga Negara, dimana pada saat sekarang ini banyak warga yang belum mengecap bagaimana pendidikan.
  3. Tercapainya perubahan yang baru  berkembang dalam pembelajaran agar menghasilkan system pendidikan dan pembelajaran yang maksimal dan dapat dimanfaatkan oleh masyarat.

Inovasi pendidikan dan pembelajaran yang mengacu pada informasi dan teknologi seperti pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan computer dan internet dimana semua  ilmu pengetahuan terdapat disana, dan juga memudahkan dalam melakukan pekerjaan.
                                  

KETERAMPILAN PROSES


BAB IV

KETERAMPILAN PROSES

A. Pengertian  Keterampilan Proses
            Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan keterampilan- keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan- kemampuan mendasar yang prinsipnya telah ada dalam diri siswa (DEPDIKBUD, dalam Moedjiono, 1992/ 1993 : 14)
Menurut Semiawan, dkk (Nasution, 2007 : 1.9-1.10)          menyatakan bahwa keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan mental terkait dengan kemampuan- kemampuan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah, sehingga para ilmuan berhasil menemukan sesuatu yang baru.
Dimyati dan Mudjiono (Sumantri, 1998/1999: 113) mengungkapkan bahwa pendekatan keterampilan proses bukanlah tindakan instruksional yang berada diluar jangkauan kemampuan peserta didik. Pendekatan ini justru bermaksud mengembangkan kemampuan- kamapuan yang dimiliki peserta didik.
B.Latar Belakang Keterampilan Proses
            Pada hakekatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran. Guru sebagai salah satu komponen dalam proses belajar mengajar merupakan pemegang peran yang sangat penting. Guru bukan hanya sekedar penyampai dan  Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses belajar mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebeh efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut.
C. Keterampilan yang di Latihkan
1. Keterampilan Mengobservasi
•         Keterampilan mengobservasi menurut Esler dan Esler (1984) adalah keterampilan yang dikembangkan dengan menggunakan semua indera yang kita miliki untuk mengidentifikasi dan memberikan nama sifat- sifat dari objek- objek atau kejadian- kejadian. Definisi serupa disampaikan oleh Abruscato (1988) yang menyatakan bahwa mengobservasi artinya mengunakan segenap panca indera untuk memperoleh imformasi atau data mengenai benda atau kejadian. (Nasution, 2007: 1.8- 1.9)
•         Kegiatan yang dapat dilakukan yang berkaitan dengan kegiatan mengobservasi misalnya menjelaskan sifat- sifat yang dimiliki oleh benda- benda, sistem- sistem, dan organisme hidup. Sifat yang dimiliki ini dapat berupa tekstur, warna, bau, bentuk ukuran, dan lain- lain. Contoh yang lebih konkret, seorang guru sering membuka pelajaran dengan menggunakan kalimat tanya seperti apa yang engkau lihat ? atau bagaimana rasa, bau, bentuk, atau tekstur…? Atau mungkin guru menyuruh siswa untuk menjelaskan suatu kejadian secara menyeluruh sebagai pendahuluan dari suatu diskusi.
2. Keterampilan Mengklasifikasi
•         Keterampilan mengklasifikasi menurut Esler dan Esler merupakan ketermpilan yang dikembangkan melalui latihan- latihan mengkategorikan benda- benda berdasarkan pada (set yang ditetapkan sebelumnya dari ) sifat- sifat benda tersebut. Menurut Abruscato mengkalsifikasi merupakan proses yang digunakan para ilmuan untuk menentukan golongan benda- benda atau kegaitan- kegiatan. (Nasution, 2007 : 1.15)
•         Bentuk- bentuk yang dapat dilakukan untuk melatih keterampilan ini misalnya memilih bentuk- bentuk kertas, yang berbentuk kubus, gambar- gambar hewan, daun- daun, atau kancing- kancing berdasarkan sifat- sifat benda tersebut. Sistem- sistem klasifikasi berbagai tingkatan dapat dibentuk dari gambar- gambar hewan dan tumbuhan (yang digunting dari majalah) dan menempelkannya pada papan buletin sekolah atau papan panjang di kelas.
•         Contoh kegiatan yang lain adalah dengan menugaskan siswa untuk membangun skema klasifikasi sederhana dan menggunakannya untuk kalsifikasi organisme- organisme dari carta yang diperlihatkan oleh guru, atau yang ada didalam kelas, atau gambar tumbuh- tumbuhan dan hewan- hewan yang dibawa murid sebagai sumber klasifikasi
3. Keterampilan Mengukur
•         Keterampilan mengukur menurut Esler dan Esler dapat dikembangkan melalui kegiatan- kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan satuan- satuan yang cocok dari ukuran panjang, luas, isi, waktu, berat, dan sebagainya. Abruscato menyatakan bahwa mengukur adalah suatu cara yang kita lakukan untuk mengukur observasi. Sedangkan menurut Carin, mengukur adalah membuat observasi kuantitatif dengan membandingkannya terhadap standar yang kovensional atau standar non konvensional. (Nasution, 2007 : 1.20)
•         Keterampilan dalam mengukur memerlukan kemampuan untuk menggunakan alat ukur secara benar dan kemampuan untuk menerapkan cara perhitungan dengan menggunakan alat- alat ukur. Langkah pertama proses mengukur lebih menekankan pada pertimbangan dan pemilihan instrumen (alat) ukur yang tepat untuk digunakan dan menentukan perkiraan sautu objek tertentu sebelum melakukan pengukuran dengan suatu alat ukur untuk mendapatkan ukuran yang tepat.
•         Untuk melakukan latihan pengukuran, bisa menggunakan alat ukur yang dibuat sendiri atau dikembangkan dari benda- benda yang ada disekitar. Sedangkan pada tahap selanjutnya, menggunakan alat ukur yang telah baku digunakan sebagai alat ukur. Sebagai contoh, dalam pengukuran jarak, bisa menggunakan potongan kayu, benang, ukuran tangan, atau kaki sebagai satuan ukurnya. Sedangkan dalam pengukuran isi, bisa menggunakan biji- bijian atau kancing yang akan dimasukkan untuk mengisi benda yang akan diukur.
•         Contoh kegiatan mengukur dengan alat ukur standar/ baku adalah siswa memperkirakan dimensi linear dari benda- benda (misalnya yang ada di dalam kelas) dengan menggunkan satuan centi meter (cm), dekameter (dm), atau meter (m). Kemudian siswa dapat menggunakan meteran (alat ukur, mistar atau penggaris) untuk pengukuran benda sebenarnya.
4. Keterampilan Mengkomunikasikan
•         Menurut Abruscato (Nasution, 2007: 1.44 ) mengkomunikasikan adalah menyampaikan hasil pengamatan yang berhasil dikumpulkan atau menyampaikan hasil penyelidikan. Menurut Esler dan Esler ((Nasution, 2007: 1.44) dapat dikembangkan dengan menghimpun informasi dari grafik atau gambar yang menjelaskan benda- benda serta kejadain- kejadian secara rinci.
•         Kegiatan untuk keterampilan ini dapat berupa kegiatan membaut dan menginterpretasi informasi dari grafik, charta, peta, gambar, dan lain- lain. Misalnya siswa mengembangkan keterampilan mengkomunikasikan deskripsi benda- benda dan kejadian tertentu secar rinci. Siswa diminta untuk mengamati dan mendeskrifsikan beberapa jenis hewan- hewan kecil ( seperti ukuran, bentuk, warna, tekstur, dan cara geraknya), kemudain siswa tersebut menjelaskan deskrifsi tentang objek yang diamati didepan kelas.


5. Keterampilan Menginferensi
•         Keterampilan menginferensi menurut Esler dan Esler dapat dikatakan juga sebagai keterampilan membuat kesimpulan sementara. Menurut Abruscato , menginferensi/ menduga/ menyimpulakan secara sementara adalah adalah menggunakan logika untuk memebuat kesimpulan dari apa yagn di observasi( Nasution, 2007 : 1.49)
•         Contoh kegiatan untuk mengembangkan keterampilan ini adalah dengan menggunakan suatu benda yang dibungkus sehingga siswa pada mulanya tidak tahu apa benda tersebut. Siswa kemudian mengguncang- guncang bungkusan yang berisi benda itu, kemudian menciumnya dan menduganya apa yang ada di dalam bungkusan ini. Dari kegiatan ini, siswa akan belajar bahwa akan muncul lebih dari satu jenis inferensi yang dibuat untuk menjelaskan suatu hasil observasi. Disamping itu juga belajar bahwa inferensi dapat diperbaiki begitu hasil observasi dibuat.
6. Keterampilan Memprediksi
Memprediksi adalah meramal secara khusus tentangapa yang akan terjadi lpada observasi yang akan datang (Abruscato Nasution, 2007 : 1.55) atau membuat perkiraan kejadian atau keadaan yang akan datang yang diharapkan akan terjadi (Carin, 1992). Keterampilan memprediksi menurut Esler dan Esler adalah keterampilan memperkirakan kejadian yang akan datang berdasarkan dari kejadian- kejadian yang terjadi sekarang, keterampialn menggunakna grafik untuk menyisipkan dan meramalkan terkaan- terkaan atau dugaan- dugaan. (Nasution, 2007 : 1.55)
Jadi dapat dikatakan bahwa memprediksi sebagai menyatakan dugaan beberapa kejadian mendatang atas dasar suatu kejadian yang telah diketahui Contoh kegiatan untuk melatih kegiatan ini adalah memprediksi berapa lama (dalam menit, atau detik) lilin yang menyala akan tetap menyala jika kemudian ditutup dengan toples (dalam berbagai ukuran) yang ditelungkupkan.
7. Keterampilan Mengenal Hubungan Ruang dan Waktu
Keterampilan mengenal hubungan ruang dan waktu menurut Esler dan Esler meliputi keterampilan menjelaskan posisi suatu benda terhadap lainnya atau terhadap waktu atau keterampilan megnubah bentuk dan posisi suatu benda setelah beberapa waktu. Sedangkan menurut Abruscato menggunakan hubungan ruang- waktu merupakan keterampilan proses yan gberkaitan dengan penjelasan- penjelasan hubungan- hubunagn tentang ruang dan waktu beserta perubahan waktu.
Untuk membantu mengembangkan pengertian siswa terhadap hubungan waktu- ruang, seorang guru dapat memberikan pelajaran tentang pengenalan dan persamaan bentuk- bentuk dua dimensi (seperti kubus, prisma, elips). Seorang guru dapat menyuruh sisiwa menjelaskan posisinya terhadap sesuatu, misalnya seorang siswa dapat menyatakan bahwa ia berada ia berada di baridsan ketiga bangku kedua dari kiri gurunya.



D. Tujuan Keterampilan Proses
Keterampilan proses ,bertujuan memberikan keterampilan yang praktis yang akan dihadapi setiap orang dalam kehodupan ,sekaligus untuk mengembangkan pemahamannya tentang konsep yang di pelajarinya.
E. Penerapan Keterampilan Proses di Sekolah
Keterampilan proses bentuk penerapannya disekolah  sebagai berikut:
1.siswa aktif melakukan obsaevasi untuk meneliti suatu permasalahaan
2.siswa harus bisa melakukan penelitian guna untuk memperoleh fakta yang valid
3.siswa berusaha mencari hubungan sebab akibat pada hasil penelitiannya
Penerapan Pada Guru dan Siswa
A. Peranan Guru
1.Menyusun tujuan pengajaraan
2.Memberi pengaturan yang di butuhkan  sehingga dapat melakukan kegiatan belajar sesuai dengan tujuan.
3. pengaturan siswa dalam belajar
4. Pengaturan ruang belajar atau kelas ,seperti jumlah siswa dalam kelas
B. Peranan Siswa
1. Saling memberikan informasi yang berkenan dengan masalah yang sedang di bahas .
2. Berperan aktif dalam berbagai diskusi
3. berpikir kritis serta  tanggap dalam berbagai permasalahan



PENERAPAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN DI INDONESIA


BAB III

PENERAPAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN DI INDONESIA


A.   RADIO PENDIDIKAN
         1.         Pengertian Radio Pendidikan
            Radio menurut ensiklopedia Indonesia yaitu penyampaian informasi dengan pemanfaatan gelombang elektromagnetik bebas yang memiliki frekuensi kurang dari 300 GHz. Sedangkan istilah “Radio Siaran” atau “Siaran Radio” yaitu berasal dari “Radio broadcast” (Inggris) atau “Radio Omreop” (Belanda) artinya yaitu penyampaian informasi kepada khalayak berupa suara berjalan satu arah dengan memanfaatkan gelombang radio sebagai media.
            Radio pendidikan adalah media yang menyampaikan pesan-pesan pembelajaran melalui CD Audio atau disiarkan melalui station pemancar radio (Sri Wahyuni:2008). Sedangkan pengertian penyiaran radio menurut Undang- undang No.32/2002 yaitu Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar, yang menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara secara umum dan terbuka, berupa program yang teratur dan berkesinambungan.

         2.         Latar Belakang
            Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan, agar dapat mempengaruhi para siswa mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Tujuan pendidikan pada dasarnya mengantarkan para siswa menuju pada perubahan- perubahan tingkah laku baik intelektual, moral maupun social agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan makhluk social. Bagi sebagian orang membaca buku merupakan hal yang membosankan. Banyak orang yang mencari cara belajar tanpa harus sering membuka buku. Makanya muncullah banyak cara atau metode belajar yang asyik. Salah satunya dengan mendengarkan radio.
            Media radio adalah salah satu media yang dapat meningkatkan mutu belajar mengajar dikelas maupun di luar kelas. Indonesia memiliki banyak penduduk dan kaya akan kekayaan alam, namun dalam segi pendidikan Indonesia cenderung kekurangan dibanding dengan Negara lain. Permasalahan pendidikan nasional meliputi kesempatan memperoleh pendidikan yang belum merata, kualitas relevansi pendidikan yang masih rendah, serta lemahnya manajemen pendidikan. Dengan potensi radio yang dapat menjangkau kalangan dan daerah manapun, radio sangat cocok untuk dijadikan media dalam pendidikan. Baik pendidikan formal maupun non formal.
            Adanya media radio pendidikan merupakan perkembangan baru yang memberi nuansa positif dalam penyebar luasan informasi pendidikan. Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang program pendidikan akan meningkatkan kemauan masyarakat untuk terlibat dalam mensukseskan program-program pendidikan yang dicanangkan pemerintah. Secara sederhana dapat kita sadari bahwa program siaran pendidikan dari media radio akan memberi pembelajaran kepada masyarakat pendengar yang akhirnya akan meningkatkan wawasan dan pengetahuan masyarakat.
         3.         Karakteristik Radio
Adapun karakteristik radio adalah sebagai berikut (Effendi, 1993 : 139) :
  1. Radio siaran bersifat langsung
Makna langsung sebagai sifat radio siaran adalah bahwa suatu pesan yang akan disiarkan dapat dilakukan tanpa proses yang rumit.
  1. Radio siaran menembus jarak dan rintangan
Bagi radio tidak ada jarak waktu, begitu suatu pesan diucapkan seorang penyiar atau orator, pada saat itu juga dapat diterima oleh khalayak. Bagi radio tiada pula jarak ruang, seberapapun jauhnya sasaran yang dituju radio dapat mencapainya. Daerah-daerah yang terbatas oleh gunung, lembah, padang pasir, ataupun samudra sekalipun tidak menjadi suatu halangan bagi siaran radio. Suatu pesan yang disiarkan dari suatu tempat di suatu negara dapat disampaikan secara seketika di tempat lain, Negara lain dan benua lain.
  1. Radio siaran mengandung daya tarik
Sebelum pesawat televisi muncul sebagai pelengkap rumah tangga, sekitar tahun limapuluh-an, pada waktu itu hanya terdapat dua jenis media massa yaitu surat kabar atau majalah dan radio. Radio mempunyai unsur daya tarik tersendiri karena ada tiga hal yang menyebabkannya demikian, antara lain :
·         Kata-kata lisan (spoken words)
·         Musik (music)
·         Efek suara (sound efek)
            Berkaitan dengan ketiga hal diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kata-kata lisan dapat membangun efek theatre of mind. Radio hanya menempilkan suara, bisa menumbuhkan akibat lain bagi pendengarnya, yaitu imajinasi. Imajinasi yang biasanya muncul di benak pendengar adalah permainan sound effect yang bisa menciptakan suasana visual pendengarnya. Selain itu pengaturan musik pada siaran radio diharapkan dapat lebih memikat pendengarnya mengingat radio adalah media selintas dengar maka penyampaian informasinya harus banyak menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siapapun yang mendengarnya. Bahkan penggunaan bahasa ilmiah harus segera diikuti bahasa awam.
            Penyampaian pesan melalui radio siaran dilakukan dengan menggunakan bahasa lisan, kalaupun ada lambang-lambang nonverbal yang digunakan jumlahnya sangat minim, misalnya tanda waktu pada saat akan memulai acara warta berita dalam bentuk bunyi telegraf atau bunyi salah satu alat musik. Dengan dihiasi musik dan didukung dengan efek suara yang menarik maka kemasan acara yang disajikan oleh radio menjadi lebih menarik dan radio terkesan menjadi lebih hidup.




            Menurut Dodi Mawardi, dalam situsnya (http://dodimawardi.wordpress.com) ada sembilan karakteristik media radio yaitu :
·         Theater of Mind (Media radio memiliki kemampuan untuk mengembangkan imajinasi pendengar).
·         Personal (Media radio mampu menyentuh pribadi pendengar).
·         Sound Only (Media radio hanya menggunakan suara dalam menyajikan informasinya).
·         At Once (Media radio dapat diakses cepat dan seketika).
·         Heard Once (Media radio di dengar secara sepintas).
·         Secondary Medium Half Ears Media (Media radio bisa menjadi teman dalam beraktifitas).
·         Mobile / Portable (Media radio mudah dibawa kemana saja).
·         Local (Media radio bersifat lokal, hanya di daerah yang ada frekuensinya).
·         Linear (Media radio tersusun secara sistematis).


         4.         Kelebihan dan Kelemahan Radio
            Kelebihan radio menurut Munthe (1996 : 12), yaitu :
a.       Lambang komunikasi radio bersifat auditif
Karenanya radio tidak menuntut pasarnya untuk memiliki kemampuan membaca, tidaknmenuntut kemampuan melihat, melainkan sekedar kemampuan mendengar.
b.      Radio mempunyai kemampuan daya tangkap yang tinggi, meskipun pesawatnya berukuran kecil, serta harganya relatif murah. Sehingga orang dapat membawanya kemana-mana, mendengarnya dimana-mana. Jadi siapa saja, kapan saja, dimana saja, mengenai apa saja, orang bisa mendengarkan acara siaran radio. Karenanya pemakaian radio telah memasyarakat, mulai dari kalangan paling bawah hingga kalangan tingkat atas.
c.       Penggunaan radio amat praktis, hanya tinggal memutar tuning pengubah gelombang dan mencari siaran yang memenuhi seleranya.
d.      Ketika mendengarkan radio, seseorang dapat sambil mengerjakan aktivitas lainnya.
e.       Radio memiliki kelebihan dalam kecepatan menyampaikan pesan dibanding media massa lain seperti Televisi, Surat Kabar. Pesan yang disampaikan melalui radio akan sampai ke pendengar sesaat setelah diudarakan, secara serentak pada waktu bersamaan diberbagai penjuru.

            Media radio juga mempunyai beberapa kelemahan yang harus diperhatikan agar media ini semakin perfect. Kelemahan tersebut antara lain:
a.       Karena sifatnya yang auditif, dalam penggunaan media ini harus benar-benar konsentrasi khususnya indera pendengaran kita karena hanya sekilas saja, tidak ada siaran ulang.
b.      Media ini belum mampu untuk menyajikan hal-hal yang sifatnya kompleks seperti rumus-rumus matematika, fisika, dan kimia sehingga kurang efektif jika diterapkan pada materi yang sifatnya berhitung.
c.       Materi yang disajikan kurang mendalam.
Radio sangat sukar menyiarkan acara-acara yang banyak ragamnya. Hal ini terjadi karena alat pendengaran manusia lebih rendah daya tangkapnya daripada alat penglihatan.
d.      Tidak dapat diterapkan pada audience yang mengalami gangguan dengan pendengaran, karena radio membutuhkan konsentrasi yang cukup pada indera pendengar.

SIARAN RADIO PENDIDIKAN UNTUK PENATARAN GURU SD
            Usaha meningkatkan mutu dan memeratakan kesempatan belajar telah dilaksanakan program penataran guru SD/MI dan Pembina SD sebanyak lebih kurang 400.000 orang mulai tahun 1976. Penataran tersebut dilaksanakan oleh Proyek Pembinaan Pendidikan Dasar (P3D). Sistem penataran yang dipakai adalah dengan menggunakan tim mobil (sebanyak 120 tim @ 8 orang) yang bergerak di 17 propinsi yang keadaan daerah dan transportasinya memungkinkan sampai meliputi 2200 SD Center. Sedang pada 9 propinsi yang lain hanya sampai di kabupaten, mengingat keadaan daerah dan transportasi yang sulit. Penataran pada SD Center dilangsungkan tiga kali dalam setahun, masing-masing empat hari lamanya. Sedangkan penataran pada tempat lain berlangsung sekali dalam setahun selama 15 hari. Tiap guru hanya akan mendapat program penataran sekali (3 x 4 hari atau 1 x 15 hari) selama jangka waktu proyek.
            Dalam pelaksanaan program P3D, telah dirasakan perlu adanya komunikasi terus-menerus antara Penatar Keliling dengan SD Center dan SD lain di sekitarnya, serta dengan pembina wilayah, komunikasi ini diperlukan untuk membina dan memantapkan hasilhasil penataran. Untuk hal ini, diperlukan siaran radio sebagai alat komunikasi dan menjaga kontinuitas pelatihan, sebab proses penataran yang dilakukan oleh setiap mobile team untuk masingmasing SD Center dari 25 SD Center yang menjadi tanggung jawabnya hanya 12 hari pelatihan (3 kali pelatihan @ 4 hari) selama setahun dengan interval waktu lebih kurang tiga bulan.
            Oleh karena itu, siaran radio dapat digunakan sebagai media komunikasi untuk menguraikan persoalan-persoalan umum yang dijumpai dan berguna untuk mencapai tujuan program P3D itu sendiri. Persoalan dimaksud antara lain bahan-bahan penataran, prosedur penyampaiannya, dan persoalan-persolaan yang perlu diketahui oleh semua pihak yang terlibat dalam waktu cepat.
            Selain hal-hal yang telah disebutkan, masalah utama yang dihadapi oleh Tim Penatar Keliling (TPK) dari P3D adalah terbatasnya waktu dan luasnya materi penataran sehingga tidak semua mata pelajaran dapat disampaikan pada waktu tatap muka. Besarnya jumlah guru yang akan ditatar, karakteristik geografis yang terdiri dari kepulauan dan daerah pedalaman yang sulit dijangkau dengan transportasi biasa, dan keterbatasan waktu tatap muka yang hanya dua minggu, tidak menjamin kontinuitas hasil penataran.

Tujuan dan Sasaran Siaran Radio Pendidikan
            Secara umum, tujuan penataran guru SD melalui siaran radio pendidikan adalah untuk menunjang pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dengan mengintegrasikan penerapan media dan teknologi komunikasi secara terencana dan terarah sebagai suatu sub sistem dalam pendidikan dasar.
Secara khusus, siaran radio untuk penataran guru SD dimaksudkan untuk:
·         Meningkatkan mutu pengetahuan dan kemampuan profesional guru dan calon guru SD
·         Memperluas kesempatan memperoleh pendidikan
·         Memperkaya sumber belajar
·         Membantu terciptanya prinsip belajar seumur hidup dan masyarakat gemar belajar.

            Sasaran program ini adalah guru SD terutama yang berada di daerah terpencil di sebelas propinsi, yaitu Irian Jaya, Maluku, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, NTT, NTB, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan termasuk dua propinsi daerah eksperimen yaitu Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Strategi Siaran pendidikan
            Materi penataran disajikan melalui media radio yang disiarkan oleh RRI daerah, Radio Pemerintah Daerah (RPD), dan Radio Swasta Niaga (RSN) setiap pagi hari dan sore harinya siaran ulang, selama enam hari dalam seminggu. Sementara setiap minggu disiarkan program lokal yang berisi jawaban-jawaban umpan balik dari para guru. Di setiap SD, dibentuk kelompok belajar (pendengar) yang terdiri dari guru-guru SD atau kelompok yang lebih besar dari SD yang berdekatan. Kelompok belajar ini diketuai oleh kepala sekolah. Seorang sekretaris yang dipilih dari anggota kelompok belajar. Selain media radio, anggota kelompok belajar dilengkapi dengan buku petunjuk pemanfaatan yang berisi bagaimana belajar melalui radio, persiapan yang perlu dilakukan sebelum mendengarkan siaran, kegiatan selama mendengarkan, serta tugas yang harus dilaksanakan setelah
mendengarkan siaran.
            Dengan keterbatasan durasi siaran yang hanya sekitar 20 menit siaran per topik maka para guru diberikan buku Bahan Penyerta (BP) siaran. BP tersebut berisi judul program yang
disiarkan, tujuan umum dan khusus, serta ringkasan dari materi penataran. Agar para guru tidak mengalami kesulitan pada saat mendengarkan siaran, pada BP disajikan arti dari kata sulit, tugas setelah mendengarkan siaran, serta buku sumber. Pada sore harinya guru dapat mendengarkan siaran ulang secara individual di rumah masing-masing.


B.   TELEVISI EDUKASI

         1.         Latar Belakang
            Indonesia merupakan sebuah negara yang luas. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau. Di pulau - pulau inilah tersimpan potensi sumber daya manusia yang diperlukan bagi kemajuan bangsa. Oleh karena itu perlulah di buat sebuah pendidikan yang layak. Untuk itu dibangun berbagai sarana dan diadakan berbagai buku agar seluruh rakyat dapat menikmati pendidikan. Namun karena wilayah yang begitu luas maka proses pembangunan berjalan dengan lambat, salah satu cara yang dapat digunakan yaitu memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi.
            Maka dengan itu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (pada waktu itu) menugaskan kepada Pustekkom sebagai unit khusus yang menangani pendayagunaan teknologi pendidikan untuk melakukan persiapan-persiapan ke arah pemanfaatan media televisi guna mendukung peningkatan dan pemerataan pendidikan. Maka sejak tahun 1978 Pustekkom melaksanakan pengembangan dan produksi program-program media televisi pendidikan. Hingga tahun 2007 program televisi yang telah diproduksi mencapai jumlah 5.163 judul.
            Untuk merealisasikan siaran televisi pendidikan, pada tahun 1980-an Pustekkom melakukan kerjasama di bidang penyiaran program televisi pendidikan dengan TVRI. Program yang disiarkan sangat popular saat itu, yaitu serial Aku Cinta Indonesia (ACI). Namun kerjasama tersebut tidak dapat berlanjut karena adanya perbedaan-perbedaan dalam aspek kebijakan dan teknis.
            Pada tahun 1990-1995, Pustekkom melakukan kerjasama di bidang penyiaran dengan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), yaitu sebuah televisi swasta yang pada awalnya dirancang sebagai televisi yang mengemban misi pendidikan. Meskipun kerjasama ini cukup berhasil, namun harus berakhir karena pihak TPI telah mengubah kebijakan menjadi sebuah stasiun televisi komersial.
            Untuk keperluan koordinasi dalam manajemen pendidikan antara pusat dengan Dinas Provinsi (waktu itu kanwil), maka pada tahun 1994-1995 diadakan teleconverence antara Menteri Pendidikan Nasional dengan seluruh Dinas Pendidikan Provinsi di Indonesia. Bahkan pada 2 Mei 1994 dalam rangka hari Pendidikan Nasional diadakan teleconverence antara Wakil Presiden (Tri Sutrisno) di Yogyakarta dengan 4 Dinas Pendidikan. Pada tahun 1996 - 1998 Pustekkom juga pernah bekerjasama dengan Cakra-warta (Indovision) menyiarkan siaran pendidikan di Quick Channel.
            Menyadari begitu pentingnya siaran televisi pendidikan bagi bangsa Indonesia, sesuai amanat UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pada tahun 2003, Depdiknas (Pustekkom) mulai melakukan persiapan untuk mempunyai stasiun televisi yang khusus menyiarkan pendidikan, dan pada tanggal 12 Oktober 2004, Mendiknas, Malik Fajar meresmikan Stasiun Televisi Pendidikan yang diberi nama Televisi Edukasi (TVE).

         2.         Pengertian TV Edukasi
            Televisi Edukasi (TVE) adalah stasiun TV yang mengkhususkan diri pada siaran pendidikan.
            TV edukasi adalah salah satu stasiun televisi yang dimiliki oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) Departemen Pendidikan Nasional. Siaran televisi pendidikan dapat menjangkau seluruh wilayah di Indonesia dan telah disiarkan oleh TVE, TVRI dan televisi swasta lainnya. Penyelenggaraan siaran televisi pendidikan merupakan salah satu strategi untuk memperbaiki kondisi dunia pendidikan baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
            Sejalan dengan hal di atas Pustekkom pada tahun 2004 sampai dengan 2005 telah merintis lokasi pemanfaatan siaran di 260 lokasi yang meliputi SMP, termasuk SMP terbuka dan SMA Terbuka. Pada tahun 2006 Depdiknas juga telah membagikan perangkat penerima siaran Televisi Edukasi kepada 28.376 SMP/MTs di Indonesia yang berada di Kabupaten pada 33 propinsi. Sedangkan pada akhir tahun 2007 Pustekkom Depdiknas telah membagikan ke SMP/MTs di kota seluruh Indonesia televisi, DVD player, parabola dan genset (bagi daerah terpencil) untuk memanfaatkan siaran TVE.

         3.         Karakteristik TVE
Televisi Edukasi memiliki beberapa karakteristik, antara lain yaitu :
1.      Memiliki sifat masal
2.      Penyajian materi pelajaran lebih jelas dan menarik, karena adanya kombinasi teknologi audio dan visual.
3.      Memberikan layanan pendidikan untuk semua jenjang, jalur, dan jenis pendidikan.
4.      Media pembelajaran yang by desaign (berbasis kurikulum).
5.      Penyajian program dikemas secara menyenangkan, santun, dan mencerdaskan.
6.      Dapat diakses melalui satelit (parabola).

         4.         Tujuan TVE
·         Memberikan layanan siaran pendidikan berkualitas untuk menunjang tujuan pendidikan nasional.
·         TVE diharapkan akan mampu memberikan layanan pendidikan khusus bagi para siswa pendidikan dasar (TK-PT), terutama di daerah-daerah pinggiran dan terpencil yang tidak mampu dijangkau oleh layanan pendidikan secara konvensional.
·         untuk menunjang program penuntasan wajib belajar.

         5.         Manfaat TVE
Manfaat TVE yaitu :
1.      Menunjang program penuntasan wajib belajar.
2.      Memberikan layanan pendidikan terutama di daerah terpencil.
3.      Mengatasi perbedaan kealitas tenaga pengajar.
4.      Menyediakan bahan ajar bermutu.
5.      Memotivasi siswa dalam belajar.

         6.         Pemanfaatan TVE
      Ada 3 pola atau cara pemanfaatan program siaran TVE yang sejauh ini telah dimanfaatkan, yaitu sebagai berikut:
a.       Pemanfaatan Program Siaran TVE sesuai dengan Jadwal Siaran TVE (Pemanfaatan Siaran TVE secara langsung).
            Dimana agar pembelajaran selaras dengan jam tayang TVE, maka guru mendownload jadwal tersebut dari situs TVE di internet, atau melalui situs pencari (misal: Google). Selain itu, guru dapat merelay siaran dari TVRI, karena TVE telah melakukan kerjasama dengan stasiun TVRI, program TVE yang ditayangkan adalah diprioritaskan pada mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris untuk peserta didik SMP dan MTs.
b.      Pemanfaatan Siaran TVE sebagai Penugasan.
Berdasarkan jadwal tayangan siaran TVE yang ada, guru menugaskan para peserta didiknya untuk mengikuti tayangan siaran TVE tentang mata pelajaran tertentu pada waktu tertentu. Peserta didik dapat melaksanakan tugas ini di sekolah atau di rumah, baik secara perseorangan maupun dalam bentuk kelompok kecil. Untuk membantu pelaksanaan tugas ini, guru hendaknya memberikan format laporan hasil penugasan disertai penjelasan seperlunya. Guru juga menginformasikan batas waktu penyerahan hasil pelaksanaan tugas dan cara-cara penyajiannya di kelas. Pada hari dan waktu yang telah ditetapkan, guru meminta para peserta didiknya untuk manyajikan hasil tugas yang telah dikerjakan di hadapan teman sekelasnya. Peserta didik yang belum mendapat kesempatan untuk menyajikan hasil tugasnya, berperan untuk mengkaji dan memberikan pendapat, tanggapan atau komentar. Melalui aktivitas pembelajaran yang demikian ini, peserta didik dilatih menyusun bahan presentasi, memberikan pendapat, tanggapan atau komentar, dan sekaligus juga berlatih berdiskusi, dan membuat rangkuman/kesimpulan. Pada akhir kegiatan, guru dapat memberikan arahan atau hal-hal yang dinilai penting untuk pengembangan kemampuan peserta didik.
c.       Pemanfaatan Program Siaran TVE sebagai Pengisi Jam Pelajaran Kosong.
Apabila guru berhalangan hadir karena sesuatu hal, maka guru piket atau guru serumpun dapat mengisi jam pelajaran kosong yang ada dengan menayangkan siaran TVE. Intinya adalah bahwa peserta didik tetap dapat belajar sekalipun guru mata pelajaran tertentu berhalangan hadir misalnya. Kegiatan pembelajaran tetap dapat berjalan sebagaimana biasanya. Guru piket atau guru serumpun tinggal menyelenggarakan kegiatan pembelajaran mengikuti RPP yang telah disiapkan sebelumnya. Apabila ada hal-hal yang berkembang selama kegiatan pembelajaran berlangsung, guru pengganti (guru piket atau guru serumpun) dapat mencatatnya dan menyampaikannya kepada guru mata pelajaran yang bersangkutan untuk dilakukan tindak lanjut.

         7.         Program Siaran Televisi Edukasi
Jenis-jenis materi siaran televisi edukasi yaitu :
a.       Formal
·         TK, siarannya : Pengetahuan, Moral (Story Telling)
·         SD, siarannya : Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, dan PPKN.
·         SMP, siarannya : Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Ekonomi, Penjas, Geografi, Fisika, Biologi, dan Seni.
·         SMA, siarannya : Biologi, Kimia, Fisika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris.
b.      Nonformal
Siaran nonformal yaitu untuk Paket B, paket C, dan keterampilan atau kursus.
c.       Informal
Siaran informal berupa pentas dongeng, Lensa Siswa (Lensis), Ungkapan Budaya, Dokumentasi, Sinema Elektronik (sinetron), Fisika itu asyik, dan lain-lain.
d.      Informasi Pendidikan
Siarannya berupa Straigh News, Featur, dan lain-lain.

Jadwal siaran TVE :
a.       TVE saluran 1
·         Parabola :        Senin s/d Sabtu 24 jam
                        Minggu dan hari libur
                        05.00 - 17.00 WIB
·         TVRI   :           Senin s/d Jumat
                                    07.00 – 08.00 WIB dan 14.00 – 15.00 WIB
·         TV Lokal :       sesuai jadwal TV lokal
·         TV kabel :       24 jam
b.      TVE saluran 2
·         Parabola :        Senin s/d Sabtu, 12.00 – 20.00 WIB
                        Minggu dan hari libur, 12.00 – 17.00 WIB
·         TV Kabel :      8 jam



C.   Cara Belajar SISWA Aktif (CBSA)

1.      Pengertian CBSA
CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.
2.      Latar Belakang CBSA
Penyelenggaraan pembelajaran merupakan salah satu tugas utama guru, dimana pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Untuk dapat membelajarkan siswa, salah satu cara yang dapat ditempuh  oleh guru ialah dengan menerapkan pendekatan CBSA. Pendekatan ini merupakan merupakan pendekatan pembelajaran yang tersurat dan tersirat dalam kurikulum yang berlaku.
CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) menuntut keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari. CBSA menuntut keterlibatan mental yang tinggi sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomolorik. Melalui proses kognitif pembelajaran akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip. Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara bersama-sama.
3.      Dimensi-dimensi CBSA
a.       Dimensi subjek didik :
o   Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar.
o   Keberanian tersebut terwujud karena memang direncanakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.
o   Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal mi terwujud bila guru bersikap demokratis.
o   Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang oleh guru.
o   Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.
o   Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk guru.



b.       Dimensi Guru
o   Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.
o   Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.
o   Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.
o   Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara serta tingkat kemampuan masing-masing.
o   Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multi media.
o   Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan.

c.        Dimensi Program
o   Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru.
o   Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep maupun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar.
o   Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi.


d.       Dimensi situasi belajar-mengajar
o   Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.
o   Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajar-mengajar

4.      Manfaat CBSA
1.      untuk mengantarkan siswa ke kedewasaan dalam arti perkembangan yang optimal. Perkembangan yang optimal mempunyaiarti yang luas, yaitu pertama-tama peserta didik mengembangkan segalapotensi yang ada padanya sehingga dapat mencapai kepuasan diri yangsepenuhnya
2.      Peran serta siswa dalam berbagai kegiatan belajar secara aktif akanmeningkat keterlibatan mental siswa yang bersangkutan dalam prosesbelajar-mengajar
3.      Kegiatan belajar mengajar dengan memberikan keleluasaan kepada siswauntuk berkomunikasi dua arah itu memberikan peluang bagi guru untuk memperoleh bahkan dalam rangka menilai keberhasilan pembelajaranyang dilaksanakan
4.      Untuk meningkatkan kemampuan siswa dan guru itu sendiri.
                                
5.      Penerapan CBSA
Ada prasyarat tertentu yang harus dimiliki oleh guru untuk meningkatkan kadar CBSA suatu proses pembelajaran. Peningkatan kadar CBSA dari suatu proses pembelajaran berarti pula mengarahkan proses pembelajaran yang berorientasi pada siswa atau dengan kata lain menciptakan pembelajaran berdasarkan siswa.
Untuk dapat mengolah dan merancang program pembelajaran dan proses, seorang guru hendaknya mengenal faktor-faktor penentu kegiatan pembelajaran. Faktor-faktor penentu tersebut adalah:
1.      Karakteristik tujuan, yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang ingin dicapai atau ditingkatkan sebagai hasil kegiatan
2.      Karakteristik mata pelajaran / bidang studi, yang meliputi tujuan, isi pelajaran, urutan, dan cara mempelajarinya
3.      Karakteristik siswa, mencakup karakteristik perilaku masukan kognitif dan afektif, usia, jenis kelamin, dan yang lain
4.      Karakteristik lingkungan / setting pembalajaran, mencakup kuantitas dan kualitas prasarana, alokasi jam pertemuan, dan yang lainnya
5.      Karakteristik guru, meliputi filosofinya tentang pendidikan dan pembelajaran, kompetensinya dalam teknik pembelajaran, kebiasaannya, pengalaman pendidikannya, dan yang lainnya .
Agar seorang guru mampu menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang memiliki kadar CBSA tinggi, maka dalam memilih dan menentukan teknik pembelajaran atau sistem penyampaian hendaknya benar-benar mempertimbangkan kemanfaatan dari teknik pembelajaran yang dipilihnya. Teknik pembelajaran yang dapat diartikan sebagai prosedur  rutin atau suatu cara yang telah ditentukan sebelumnya untuk menyampaikan pesan dengan bahan, alat, latar, dan orang , pada akhirnya akan membentuk sistem instruksional. Oleh kareba itu pentingnya teknik pembelajaran ini, maka pemanfaatan teknik pembelajaran itu hendaknya bersesuaian dengan karakteristik, karakteristik guru, karakteristik tujuan, karakteristik mata pelajaran  / bidang studi, dan karakteristik bahan alat pembelajaran.

D.   Computer Assisted Instruction (CAI)

1.      PENGERTIAN CAI
Kemajuan teknologi modern adalah salah satu faktor yang turut menunjang keberhasilan pendidikan. Peranan teknologi sangat berpengaruh pada proses penyampaian pesan terutama dalam proses pendidikan. Media merupakan alat perantara untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Media dapat berfungsi untuk memberikan pengalaman konkrit, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan minat belajar siswa. Terdapat dua macam pembelajaran berbasis komputer yaitu Computer Assisted Instruction (CAI) dan Computer Managed Instruction (CMI). Dalam CAI, siswa berinteraksi langsung (online) dengan komputer sedangkan CMI membantu guru dalam mengadministrasi proses pembalajaran dan siswa tidak online dengan komputer.
CAI (Computer Assisted Instruction) adalah suatu sistem penyampaian materi pelajaran yang berbasis mikroposesor yang pelajarannya dirancang dan diprogram ke dalam sistem tersebut. Atau dengan kata lain, CAI adalah Semua materi atau aktivitas pembelajaran yang disajikan melalui komputer. Dalam mode ini, komputer bisa menampilkan pembelajaran, menggunakan berbagai jenis  media (teks, gambar, suara, video), menyediakan aktivitas dan suasana pembelajaran, kuis atau dengan menyediakan interaksi dari siswa, mengevaluasi jawaban  siswa, menyediakan umpan balik dan menentukan  aktivitas  tindak lanjut yang sesuai sehingga siswa dapat berinteraksi secara aktif.
CAI dapat berbentuk tutorial, drills and practice, simulasi, dan permainan. Media pembelajaran berbasis CAI ini memiliki kemampuan dalam mengintegrasikan komponen warna, musik, dan animasi grafik (graphic animation). Media pembelajaran berbasis CAI ini juga mampu memberikan balikan (feedback) sehingga siswa dapat aktif berinteraksi dengan media yang diproduksi. Bentuk pembelajaran CAI yang diberikan adalah bentuk tutorial bercabang.
Dengan perkembangan multimedia komputer saat ini, wujud media pembelajaran tidak harus secara fisik hadir di hadapan siswa. Menurut Mayub (2005:21), media pembelajaran ini bisa dirancang dan dibuat dengan program yang sederhana dengan sistem multimedia yang baik, penggunaannya mudah dan mobilitasnya tinggi.
CAI efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran baik mengajarkan prinsip dan suplemen. CAI juga bertujuan membuat banyak waktu belajar atau membuat belajar lebih singkat.
2.      Tipe-Tipe CAI
Ada lima tipe CAI yang sering dipergunakan ( Patterson, Strickland, 1986) yaitu  :
a.       Drill and Practice (Latihan dan Praktek) 
Tipe Drill and Practice menyajikan materi pelajaran untuk dipelajari secara berulang. Tipe program ini adalah cocok dipergunakan sewaktu pengajar menyajikan latihan soal dengan disertai umpan balik. Tipe perangkat lunak ini sering kali dipergunakan untuk menambah pelajaran pada bidang matematika atau faktual. Selama pelaksanaan latihan-latihan soal pada Drill and Practice, komputer dapat menyimpan jawaban yang salah, laporan nilai, contoh jawaban yang salah dan pengulangan dengan contoh-contoh masalah yang telah dijawab secara tidak benar.
b.      Tutorial
Tipe Tutorial ini menyajikan materi yang telah diajarkan atau menyajikan materi baru yang akan dipelajari. Pada program ini memberi kesempatan untuk menambahkan materi pelajaran yang telah dipelajari ataupun yang belum dipelajari sesuai dengan kurikulum yang ada. Tutorial yang baik adalah memberikan layar bantuan untuk memberikan keterangan selanjutnya atau ilustrasi selanjutnya. Dan juga untuk menerangkan segala informasi untuk menyajikan dan bagaimana menyajikannya. Ketika kita mengevaluasi Tutorial, kita perlu untuk mengevaluasi jika Tutorial tidak hanya menyajikan informasi tapi juga harus menerangkan jawaban-jawaban yang salah. Sewaktu program ini menerangkan jawaban- jawaban yang salah, program ini harus mempunyai kemampuan untuk melanjutkan pelajaran dari poin dengan memberi umpan balik pada informasi yang salah dimengerti sebelum melanjutkan ke informasi baru.
c.       Simulation (simulasi)
Tipe simulasi memberikan kesempatan untuk menguji kemampuan pada aplikasi nyata dengan menciptakan situasi yang mengikutsertakan siswa-siswa untuk bertindak pada situasi tersebut. Simulasi dipergunakan untuk mengajar pengetahuan prosedural seperti belajar bagaimana untuk menerbangkan pesawat atau mengemudikan mobil. Program simulasi yang baik dapat memberikan suatu lingkungan untuk situasi praktek yang tidak mungkin dapat dilakukan di ruang kelas atau mengurangi resiko kecelakaan pada lingkungan sebenarnya.
d.      Problem Solving (Memecahkan Masalah)
Tipe Problem Solving menyajikan masalah-masalah untuk siswa untuk menyelesaikannya berdasarkan kemampuan yang telah mereka peroleh. Program ini memberikan aplikasi dasar strategi pemecahan masalah, analisis akhir, mencari ruang permasalahan, dan inkubasi Program ini akan membantu siswa untuk menciptakan dan mengembangkan strategi pemecahan masalah mereka.


e.       Instructional/ Educational Games
Tipe Instructional atau Educational Games merupakan program yang menciptakan kemampuan pada lingkungan permainan. Permainan diberikan sebagai alat untuk memotivasi dan membuat siswa untuk melalui prosedur permainan secara teliti untuk mengembangkan kemampuan mereka.
3.      KARAKTERISTIK CAI
a.       Berdasarkan tujuan pembelajaran.
b.      Sesuai dengan karakteristik siswa.
c.       Memaksimalkan interaksi
d.      Individualisasi
e.       Mempertahankan minat siswa
f.       Pendekatan kepada siswa secara positif
g.      Menyediakan bermacam-macam umpan balik
h.      Sesuai dengan lingkungan pembelajaran
i.        Mengevaluasi kinerja yang tepat
j.        Menggunakan komputer dengan bijak
k.      Berdasarkan pada prinsip disain instruksional
l.        Telah dievaluasi secara mendalam
4.      KELEBIHAN CAI
a.       Meningkatkan interaksi
b.      Individualisasi
c.       Kelebihan secara administratif dan Biaya
d.      Motivasi
e.       Umpan balik segera/cepat
f.       Mudah menyimpan data
g.      Integritas pembelajaran
h.      Kendali siswa
5.      KEKURANGAN CAI
a.       Perangkat Keras (Hardware) yang mahal
b.      Kesulitan untuk mereview materi
c.       Bergantung pada kemampuan membaca dan visual
d.      Grafik yang tidak realistic
e.       Butuh keterampilan pengembangan tambahan
f.       Waktu pengembangan yang lama
g.      Terbatasnya belajar incidental
h.      Persepsi hanya dari input yang telah terprogram

E.   INTERNET

Internet merupakan salah satu produk teknologi informasi dan komunikasi yangcukup banyak mempengaruhi berbagai sektor, termasuk pendidikan. Bahkan internet dianggap sebagai dunia baru yang penuh pesona yang dapat memikat siapa saja yang Berinteraksi dengannya. Yang dimanfaatkan oleh guru untuk dapat menawan hati para siswa untuk lebih gemar dan giat belajar, begitu pula oleh staf administrasi pendidikan.
Internet merupakan singkatan dari Interconnected Network. Jika diterjemahkan secara langsung berarti jaringan yang saling terhubung. Internet adalah gabungan jaringan komputer di seluruh dunia yang membentuk suatu sistem jaringan informasi global.
Semua komputer yang terhubung ke internet dapat mengakses semua informasi yang terdapat di internet secara gratis. Internet dapat digunakan sebagai sarana pertukaran informasi dari satu komputer ke komputer lain tanpa dibatasi oleh jarak fisik kedua komputer tersebut. Peranan internet yang sangat penting adalah sebagai sumber data dan informasi serta sebagai sarana pertukaran data dan informasi.

Sejarah Internet

Perkembangan internet diawali dengan dibangunnya jaringan ARPANet pada tahun 1969. ARPA (Advanced Research Project Agency) merupakan sebuah jaringan yang dikembangakan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang tugasnya untuk melakukan penelitian terhadap jaringan komputer dengan teknologi packet switching. Jaringan tersebut semula hanya beranggotakan beberapa komputer di beberapa universitas di Amerika Serikat, seperti University of California-Los Angeles dan Stanford Research Institute. Di awal perkembangannya, jaringan tersebut hanya digunakan khusus untuk kalangan akademik dan militer. Istilah internet sendiri muncul sekitar tahun 1983 dengan ditemukannya protocol TCP/IP (Transmission Control Protocol/Intenet Protocol) yang memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan jaringan.

Internet dalam pembelajaran
Dengan kecanggihan internet memungkinkan seorang dosen atau guru tidak harus datang ke kelas untuk menyampaikan materi tetapi cukup dilakukan melalui internet misalnya dengan menggunakan teleconference. Internet bisa saja mengabaikan jarak, sehingga ketika kita butuh informasi dariseorang pakar di luar negeri dengan segera kita dapatkan.Pada akhirnya, pemanfaatan dan pengembangan internet menjadi suatu penunjang yang sangat penting dalam peningkatan kualitas pendidikan. Dengan pengaplikasian sebagaimana dijelaskandiatas, maka kualitas pendidikan kita yang tertinggal jauh dengan negara lain mempunyai peluang yang besar untuk bisa setara atau melebihi negara yang telah maju.


Keuntungan internet
·         Penggunaan internet dewasa ini telah merambah ke berbagai kehidupan, baik di bidang sosial, budaya, ekonomi, kesehatan, politik, maupun pendidikan. Internet sangat dibutuhkan dalam bertukar informasi dan berkomunikasi secara cepat tanpa ada batasan wilayah, ruang dan waktu. Dengan internet semua pekerjaan menjadi sangat mudah dan sangat efisien terhadap waktu. Internet juga bisa digunakan untuk memperluas pengetahuan serta memperluas pergaulan kita sebagai makhluk sosial.

·         Penggunaan internet yang tepat akan sangat bermanfaat bagi kemajuan pemikiran dan peradaban bagi bangsa yang selalu menginginkan perubahan ke arah positif. Internet merupakan bagian dari teknologi informasi
  • Efisiensi waktu
  • Komunikasi
  • Sistem publikasi web
  • Keseragaman informasi
  • Meningkatkan kerjasama
  • Efektifitas biaya

Kelemahan dari internet

•         Informasi yang salah atau tidak sesuai sehingga mengurangi efektifitasnya
•      Interaksi di intranet yang mungkin tidak bertanggung jawab
•      Perlu pelatihan khusus untuk anggota dalam menggunakan internet
•      Perlu tenaga ahli untuk membangun dan mengembangkan internet di sebuah organisasi
•      Bisa terjasi overload (data penuh) akibat pengiriman pesan antar pengguna yang tidak terkontril dengan baik.