Kamis, 08 Desember 2011

PENGARUH PENERAPAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

BAB I
PENGARUH PENERAPAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Beragamnya pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalam mengorgansiasikan kurikulum. Setidaknya terdapat enam ragam pengorganisasian kurikulum, yaitu:
  1. Mata pelajaran terpisah (isolated subject); kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kemampuan peserta didik, semua materi diberikan sama
  2. Mata pelajaran berkorelasi; korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu.
  3. Bidang studi (broad field); yaitu organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran. Salah satu mata pelajaran dapat dijadikan “core subject”, dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core tersebut.
  4. Program yang berpusat pada anak (child centered), yaitu program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata pelajaran.
  5. Inti Masalah (core program), yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah, dimana masalah-masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu, dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau analisisnya diberikan secara terintegrasi.
  6. Ecletic Program, yaitu suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik.
Berkenaan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, tampaknya lebih cenderung menggunakan pengorganisasian yang bersifat eklektik, yang terbagi ke dalam lima kelompok mata pelajaran, yaitu :
1)      kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
2)      kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;
3)      kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
4)      kelompok mata pelajaran estetika; dan
5)      kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan
Kelompok-kelompok mata pelajaran tersebut selanjutnya dijabarkan lagi ke dalam sejumlah mata pelajaran tertentu, yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah. Di samping itu, untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik disediakan kegiatan pengembangan diri.
ALTERNATIF PENDIDIKAN
            Pendidikan alternatif merupakan istilah generik dari berbagai program pendidikan yang dilakukan dengan cara berbeda dari cara tradisional. Secara umum pendidikan alternatif memiliki persamaan, yaitu: pendekatannya berisfat individual, memberi perhatian besar kepada peserta didik, orang tua/keluarga, dan pendidik serta dikembangkan berdasarkan minat dan pengalaman. Pendidikan alternatif merupakan sesuatu yang secara sengaja dan sadar dirancang untuk berbagai keperluan yang belum terpenuhi oleh pendidikan regular atau konvensional. Tindakan ini tentu mempunyai pertimbangan yang mendasar. Dasar tindakan itu adalah falsafah dan teori. Tindakan untuk menyelenggarakan pendidikan alternatif karena itu tentu mempunyai dasar falsafah dan teori. Setiap pembahasan falsafah atas suatu gejala atau obyek paling sedikit perlu meliputi tiga pertimbangan, yaitu :

1.      Pertimbangan ontologism
Pendidikan alternatif meliputi sejumlah postulat sebagai berikut:
a.       manusia dilahirkan dalam keadaan berbeda
b.      manusia mempunyai kemampuan untuk belajar dan mengembangkan diri
c.       manusia berkembang sesuai dengan potensi genetika dan lingkungan yang mempengaruhinya;
d.      manusia mempunyai keluwesan dan kemampuan untuk mengubah serta membentuk kepribadiannya.
Postulat ini boleh dikatakan berlaku secara universal. Dengan serangkaian postulat ini kita dapat menyimpulkan bahwa salah satu hakekat
pendidikan alternatif adalah memberikan kemungkinan pendidikan
Dimungkinkannya pendidikan yang sesuai hakekat manusia, yaitu meliputi di antaranya
minat, kebutuhan dan kemampuan masing-masing, tidak lain adalah suatu unsur penting dalam masyarakat madani atau masyarakat warga (civil society). Dalam masyarakat madani ada keseimbangan antara prakarsa warga dan masyarakat dengan pemerintah. Jadi campur tangan pemerintah yang berlebihan dalam mengatur pendidikan atau etatisme di bidang pendidikan, harus dihapus.
2.      Pertimbangan epistemologis
Menurut Eric Ashby (Carnegie Comission, 1972:iv) pola pendidikan oleh keluargadengan memberikan pengalaman langsung ini mengalami empat revolusi, yaitu pertama dengan adanya tenaga profesi guru yang mendapat tugas khusus untuk mendidik sekelompok anak secara oral. Revolusi kedua terjadi dengan ditemukannya tulisan sehingga pendidikan dapat pula disampaikan secara visual dengan menggunakan lambang tertentu. Revolusi ketiga dan keempat masing-masing terjadi ketika ditemukan mesin cetak dan kemudian perangkat komunikasi elektronik. Mesin cetak memungkinkan dibuatnya buku atau bahan belajar dalam jumlah besar dan harga yang ekonomis.
  1. Pertimbangan aksiologis
Pertimbangan aksiologis atau azas manfaat pendidikan alternatif pertama-tama ditujukan kepada peserta didik/warga belajar, yaitu agar mereka dapat dimungkinkan mengikuti
pendidikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka. Peserta pendidikan alternatif dapat memilih program pendidikan yang diminatinya dan yang memberinya kesempatan untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya seoptimal mungkin. Dalam berbagai bentuk pendidikan alternatif peserta didik dapat melaksanakan kegiatan sehari-hari demi untuk kelangsungan misi kehidupan atau kelembagaan.
Bagi lembaga penyelenggara maupun masyarakat, pendidikan alternatif juga membawa manfaat misalnya :
1)  dapat dipercepatnya usaha memenuhi kebutuhan masyarakat dan pasaran kerja
2)  dapat menarik minat calon peserta yang banyak;
3) tidak terganggunya kegiatan kehidupan sehari-hari karena pola dan jadwal pembelajaran yang luwes
 4) harapan akan meningkatnya kerjasama dan dukungan pengguna lulusan atau keluaran.

         Menurut Jery Mintz (1994:xi) pendidikan alternatif dapat dikategorikan dalam empat bentuk pengorganisasian, yaitu:
1. Sekolah public pilihan (public choice)
            Sekolah Publik Pilihan adalah lembaga pendidikan dengan biaya negara (dalam pengertian sehari-hari disebut sekolah negeri yang menyelenggarakan program belajar dan pembelajaran yang berbeda dengan dengan program regular/konvensional, namun mengikuti sejumlah aturan baku yang telah ditentukan.
            Contoh sekolah publik pilihan adalah sekolah terbuka / korespondeni (jarak jauh). Kondisi sekarang adalah SMP Terbuka, SMU Terbuka, Universitas Terbuka.Contoh lain adalah sekolah yang disebut sekolah magnet ( magnet school) atau sekolah bibit (seed school). Disebut sekolah magnet karena sekolah ini menawarkan program unggulan seperti dalam hal olahraga, atau seni. Disebut sekolah bibit karena program pendidikan yang diselenggarakan menghasilkan siswa-siswa yang mempunyai keunggulan dalam program yang ditekuni.
2. Sekolah/Lembaga Pendidikan Publik
Sekolah/lembaga pendidikan publikb untuk siswa bermasalah pengertian “siswa bermasalah” di sini meliputi mereka yang:
  • tinggal kelas karena lambat belajar,
  • nakal atau mengganggu lingkungan (termasuk lembaga permasyarakatan anak),
  • korban penyalahgunaan narkoba,
  • korban trauma dalam keluarga karena perceraian orang tua, ekonomi, etnis/budaya (termasuk bagi anak suku terasing dan anak jalanan dan gelandangan),
  • putus sekolah karena berbagai sebab,
  • belum pernah mengikuti program sebelumnya. Namun tidak termasuk di dalamnya sekolah luar biasa yang dibangun untuk penyandang kelainan fisik dan/atau kelainan mental seperti tunarungu, tuna netra, tuda daksa, dsb.
3.  Sekolah/Lembaga Pendidikan Swasta
Sekolah/lembaga pendidikan swasta mempunyai jenis, bentuk dan program yang sangat beragam, termasuk di dalamnya program pendidikan bercirikan agama seperti pesantren & sekolah Minggu; lembaga pendidikan bercirikan keterampilan
fungsional seperti kursus atau magang; lembaga pendidikan dengan program perawatan atau pendidikan usia dini seperti penitipan anak, kelompok bermain dan taman kanak-kanak.
4.Pendidikan di Rumah (Home Schooling)
Pendidikan di rumah (home scooling) termasuk dalam kategori ini adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh keluarga sendiri terhadap anggota keluarganya yang masih dalam usia sekolah. Pendidikan ini diselenggarakan sendiri oleh orangtua/keluarga dengan berbagai pertimbangan, seperti: menjaga anak-anak dari kontaminasi aliran atau falsafah hidup yang bertentangan dengan tradisi keluarga (misalnya pendidikan yang diberikan keluarga yang menganut fundalisme agama atau kepercayaan tertentu); menjaga anak-anak agar selamat/aman dari pengaruh negatif lingkungan; menyelamatkan anak-anak secara fisik maupun mental dari kelompok sebayanya; menghemat biaya pendidikan; dan berbagai alasan lainnya.
Bentuk pendidikan alternative tertua yang dikelola masyarakat untuk masyarakat adalah Pesantren. Diperkirakan dimulai pada abad 15, kali pertama dikembangkan oleh Raden Rahmad alias Sunan Ampel. Kemudian muncul pesantren Giri oleh Sunan Giri, pesantren Demak oleh Raden Fatah dan Pesantren Tuban oleh Sunan Bonang. Selain pesantren, Taman Siswa didirikan pada tahun 1922.
Salah satu di antara aspek inovasi itu adalah penggunaan Siaran (broadcasting) dalam pendidikan. Telah lama diidentifikasikan bahwa broadcasting mempunyai potensi hebat jika penggunaannya teratur dan terarah” Penggunaan media radio untuk pendidikan juga didorong oleh pertimbangan-pertimbangan (Miarso : 1971) sebagai berikut :
a.   Eksplosi penduduk yang dengan sendirinya mengakibatkan eksplosi anak-anak usiasekolah.
b.   Eksplosi ilmu pengetahuan
c.   Eksplosi teknologi, kedua eksplosi terakhir ini menambah lebar dan dalam jurang pemisah antara negara berkembang dan negara sedang berkembang
d.   Terbatasnya dana dan fasilitas untuk perbaikan
e.   Perjalanan waktu yang tak dapat menunggu lagi
Pengaruh Penerapan Teknologi pada:
A.   Organisasi Kurikulum
Beragamnya pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalma mengorganisasikan kurikulum, diantaranya:
         Mata pelajaran terpisah
         Mata pelajaran berkorelasi
         Bidang studi (broad field)
Berkenaan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, tampaknya lebih cenderung menggunakan pengorganisasian yang bersifat elektik, yang terbagi kedalam lima kelompok mata pelajaran seperti:
          Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia
         Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian
          Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi
          Kelompok mata pelajaran estetika
         Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan
         Kelompok-kelompok mata pelajaran tersebut dijabarkan lagi kedalam sejumlah mata pelajaran tertentu yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah.
         Program yang berpusat pada anak (child centered), program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik , bukan pada mata pelajaran
         Inti masalah (core program), program berupa unit-unit masalah masalah-masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu.
         Elektic program, program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik.
B.   Pola Instruksional
Teknologi pendidikan secara tidak langsung juga mempengaruhi tingkat pengambilan keputusan instruksional yang tinggi.Pengaruh ini berlangsung melalui prosedur analisis kebutuhan,analisis siswa,analisis tugas dan perumusan tujuan instruksional.
Aplikasi praktis teknologi pendidikan akan mempengaruhi bidang pendidikan dalam berbagai macam bentuk, pengaruh yang ebih mendasar terletak pada perkembangan pola instruksional, perubahan tingkat penganbilan keputusan instruksional, serta tumbuhnya berbagai bentuk lembaga pendidikan.
Pola instruksional ada berbagai bentuk:
Instruksional sederhana, jika dosen atau guru berperan sebagai satu-satunya sumber belajar.


        

Sementara itu, dengan semakin meningkatnya kebutuhan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, semakin dirasakan terbatasnya sumber yang berupa dosen. Memperbanyak dosen bukian berarti secara badaniah, namun karyanyaberupa berbagai media instruksional. Dosen yang baik dapat ditugaskan mempersiapkan bahan pengajaran terprogram dalam bentuk modul, dan didukung dengan kesadaran mahasiswa yang tinggi, peran dosen dapat digantikan penuh oleh media yang diciptakan dosen, sehingga disebut dosen media.

MAHASISWA


Apabila kita tarik secara umun, artinya juga berlaku dalam kontekspendidikan luar sekolah, akan terdapat pola instruksional sebagai berikut:
1.    Sumber berupa orang saja.
2.    Sumber berupa orang yang dibantu dengan sumber lain, namun masih dikontrol guru.
3.    Sumber berupa orang bersama dengan sumber lainberdasarkan suatu pembagian tanggung jawab.
4.    Sumber lain saja tanpa sumber berupa orang.
5.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar